Perumusan Masalah 2 - Skripsi Keterampilan Menulis Puisi

Pemanfaatan objek kontekstual lingkungan sekolah dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan untuk mempelajari bahasa. Lingkungan sekolah dapat berupa halaman, kebun, taman, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan, dan lain-lain. Sedangkan teknologii komunikasi dapat berupa media cetak dan elektronik. Harga Burung Media cetak meliputi surat kabar, majalah, buku, brosur, radio, internet, VCD, CD, dan lain-lain. Melalui internet dapat diperoleh berbagai informasi dalam berbagai bahasa, sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Melalui televisi dan radio siswa dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan dan melalui komputer siswa dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, terutama rnembaca dan rnenulis. Harga Sepeda

Bacaan sastra yang dapat diperkenalkan kepada siswa SD minimal enam (6) jenis karya sastra seperti: puisi anak, cerita anak, drama anak, dongeng atau cerita rakyat. Siswa diharapkan mampu mengapresiasi karya sastra tersebut. Pembelajaran apresiasi sastra ini harus disesuaikan dengan kompetensi-kompetensi yang terdapat pada setiap aspek. Pemilihan bahan ajar untuk kompetensi-kompetensi tersebut dapat dicari pada sumber-sumber yang relevan (Depdiknas, 2003  : 13). Harga Satria Bekas


2. Menulis Puisi di SD
Pembelajaran menulis puisi bagi siswa kelas V SD sesungguhnya bukan untuk tujuan agar siswa kelak menjadi penyair ataupun sastrawan, melainkan untuk tujuan agar siswa dapat belajar bahasa. Belajar bahasa bukan pula untuk keperluan belajar bahasanya, melainkan agar siswa dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, ide, dan pendapat. Kemampuan untuk berekspresi dan berimajinasi sangat dibutuhkan siswa dalam berkomunikasi, baik komunikasi antarsiswa maupun berkomunikasi dengan guru, orang tua, dan masyarakat sekitar di lingkungan tempat tinggal mereka(Hermana: 1998 : 2).

Menyadari akan pentingnya pengalaman belajar menulis puisi bagi siswa kelas V SD, penulis mencoba mendeskripsikan bagian pokok yang berhubungan dengan hal-hal berikut.

a.        Pengertian Puisi
            Kata puisi bila ditinjau dari kelompok kata termasuk kedalam kata benda atau nomina. Berdasarkan KBBI(1988 : 706) kata puisi memiliki beberapa leksem dengan pengertian sebagai berikut.
(1)          Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik, dan bait.
(2)          Puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh irama dan metrum, dan tidak terikat oleh jumlah baris dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap baris.
(3)          Puisi berpola adalah puisi yang mencakupi jenis sajak yang susunan lariknya berupa bentuk geometris seperti; belah ketupat, jajaran genjang, atau bulat telur, tanda tanya, tanda seru, ataupun bentuk lain.
(4)          Puisi lama adalah puisi yang belum dipengaruhi oleh puisi Barat seperti; pantun, gurindam, syair, mantra, bidal, dan lain-lain.

Pendapat lain dikemukakan Hermana(1998 : 3) dalam jurnal hasil penelitian yang berjudul “Keterampilan Siswa Mengungkapkan Gagasan, Pikiran, Perasaan, atau Pendapat Secara Tertulis Dalam Bentuk Puisi”(Studi Deskriptif di Kelas 4 Unggulan Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya Tahun 1988). “Puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang dapat digunakan untuk menyampaikan atau mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, atau pendapat. Puisi yang dimaksud ialah puisi anak-anak yang sesuai dengan nalar dan kemampuan berbahasa siswa”.

Dalam suatu pengungkapan secara implisit sama halnya dengan makna tersirat di mana kata-kata condong pada arti yang konotatif, itulah sebenarnya yang kita maksud dengan puisi (Tirtawijaya, 1982 : 9). Sedangkan menurut Poerwodarminta(1976 : 772) puisi adalah karangan kesusastraan yang berbentuk sajak.
  
Sesungguhnya kata puisi berasal dari bahasa Yunani “poetisteis” yang berarti penciptaan, tetapi pengertian seprti ini lama kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi hasil seni sastra tertentu dengan menggunakan irama sajak dan kadang-kadang kata-kata kiasan(Tarigan, 1947 : 9). Akhli lain berpendapat bahwa puisi adalah ekspresi yang konkret bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama(Situmorang, 1980 : 10).

Berdasarkan beberapa pengertian dan pendapat di atas, puisi yang penulis maksudkan selaras dengan pembelajaran menulis puisi bagi siswa kelas V SD adalah puisi yang tidak terikat oleh irama dan metrum, tidak terikat oleh jumlah baris dalam setiap bait, dan tidak pula terikat oleh jumlah suku kata dalam setiap barisnya.


b. Teknik Menulis Puisi di SD
 Pengalaman belajar menulis puisi bagi siswa kelas V SD sangat baik, mengingat pengalaman belajar tersebut selaras dengan fungsi pembelajaran sastra yaitu sebagai penghalus budi. Pembelajaran menulis puisi bagi siswa SD yang selama ini banyak laksanakan di setiap SD belum banyak memanfaatkan teknik-teknik pembelajaran yang tepat. Guru cenderung memberi tugas kepada siswa untuk menyalin puisi karya-karya orang lain, membuat kliping, membuat puisi tanpa ada teknik pembelajaran yang diterapkan sebelumnya. Bahkan terkadang guru pun belum mampu menjadi model bagi siswa dalam menulis puisi.

Menulis puisi adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pemakai bahasa untuk menyampaikan pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata bahasa tulis kepada pembaca(Hermana, 1998 : 8). Selanjutnnya, ditegaskan bahwa menulis puisi merupakan suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan dalam konteks kalimat yang belum tentu jelas maknanya dalam suatu pandangan sekilas, agar makna kata-kata tersebut secara individual dapat diketahui, maka dibutuhkan suatu proses apresiasi. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan tersirat dalam bahasa puisi tidak akan tertangkap atau tidak dapat dipahami, dan proses apresiasi itu pun tidak terlaksana dengan baik.

Untuk hal itu, agar pembelajaran menulis puisi dapat menarik minat belajar bahasa siswa, perlu dilakukan suatu inovasi dalam teknik pembelajaran. Teknik yang penulis gunakan adalah pemanfaatan objek kontekstual lingkungan sekolah. Untuk mengelola pembelaran yang telah direncanakan dengan pemanfaatan objek kontekstual lingkungan sekolah perlu diawali dengan kegiatan berikut.

Satu hari sebelum pembelajaran dilaksanakan terlebih dahulu harus diinformasikan kepada siswa bahwa besok mereka akan diajak belajar bahasa Indonesia di luar kelas misalnya, di pinggir pantai. Selanjutnya guru perlu menyarankan kepada siswa agar berhati-hati di jalan – agar tidak tertusuk duri-duri tumbuhan pantai, karena mungkin saja ada dianatara siswa yang tidak memakai alas kaki.


Setibanya di pantai, guru mengajak siswa untuk berkumpul di dekat sebuah tempat yang teduh misalnya, di dekat pohon pandan laut. Kemudian guru perlu memperlihatkan contoh puisi. Agar puisi yang diperlihatkan kepada siswa sesuai dengan situasi lingkungan setempat, maka puisi yang diperlihatkan harus benar-benar sesuai dengan lingkungan tempat di mana siswa belajar. Selanjutnya tawarkan kepada siswa, “Siapa yang berani membaca puisi ini?”
Jika tidak siswa siswa yang secara sukarela tampil membacakan puisi, guru dapat memberikan tugas kepada salah seorang siswa. Pada langkah ini guru sangat perlu memberikan penghargaan seperti pujian sambil mengajak memberikan tepuk tangan kepada siswa lainnya.

Selesai siswa membacakan puisi guru mengajukan pertanyaan kepada siswa misalnya:
(1)    “Apa yang dibacakan oleh temanmu itu puisi atau bukan?”
 (2)   “Anak-anak apa judul puisi tadi?”
 (3)   “Apa isi puisi tersebut?”

Guru sangat perlu memberikan kesempatan kepada siswa memberikan jawaban. Selanjutnya guru perlu berupaya untuk memancing jawaban siswa. Setelah selesai tahapan ini, guru mulai memperbolehkan siswa untuk mencoba menulis puisi. Sarankan kepada meraka agar menulis puisi sesuai dengan apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan sendiri pada saat itu.

C. Unsur Intrinsik Puisi
Pengalaman belajar yang dapat diberikan kepada siswa dalam pengajaran puisi meliputi unsur: tema, rasa, nada, dan tujuan. Setiap puisi memiliki unsur yang disebut tema. Unsur pertama yaitu tema, yang dimaksud dengan tema pada puisi adalah pokok persoalan yang hendak disampaikan oleh si penulis atau pengarang. Unsur kedua yaitu rasa, yang dimaksud rasa pada puisi adalah sikap si penulis atau pengarang terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya. Unsur ketiga yaitu nada, yang dimaksud nada adalah sikap pembaca atau penikmat karya pada umumnya. Sedangkan unsur keempat adalah tujuan, yang dimaksud tujuan pada puisi adalah tujuan penulis atau pengarang dengan menciptakan puisi itu(Rusyana, 1982 : 12).

Share :
 

Makalah Pendidikan

Skripsi